About us
Online Messages
Online Messages (Indonesian)
Prophetic Insights
Thought of the Month
Proverbial Maxims
Itinerary
Resources
Contact Us
 
 
 
12/2017
- Kegembiraan Musim Semi untuk Kekristenan (Dr. Jedidiah Tham)
- Ujilah Segala Sesuatu (Prophet Samuel Tham)

1 Tes 5:21
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik

Sebuah gambaran yang jelas yang melekat kepada saya ketika berdiam diri untuk tahun baru adalah mengenai 5 batu. Sebagaimana yang akan dilakukan orang-orang, saya mengambil Alkitab saya dan mulai membaca dari 1 Samuel 17. Segera saya sampai ke ayat 40, yang biasanya menjadi subyek dari banyak khotbah-khotbah. Uraian dari kemenangan Daud yang dipaparkan sebagai cetak biru untuk kemenangan rohani.

Namun mata saya tertuju pada ayat sebelumnya, "Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: "Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya." Kemudian ia menanggalkannya" 1 Sam 17:39

Kata "teruji" yang menarik perhatian saya- yang diulang di sepanjang ayat ini. Di sekolah minggu, gambaran yang dilukiskan adalah bahwa baju perang Saul terlalu besar sehingga Daud memilih untuk tidak memakainya, dan banyak kali di dalam gereja penekanan pada kita adalah untuk tidak mengambil baju perang orang tetapi baju perang rohani Tuhan. Memang ini benar dan poin-poin yang penting tetapi itu bukan alasan yang diberikan oleh Daud.

Sebaliknya, hikmat Daud terletak pada memilih yang sudah "teruji". Dia tahu bahwa berjalan ke dalam peperangan dengan sesuatu yang tidak teruji (terjemahan lain dari bahasa Ibrani nasah)- tidak peduli betapa kokoh atau berharga kelihatannya- akan menjadi keputusan yang paling bodoh yang dia lakukan. Kata "nasah" adalah kata yang digunakan dalam Kejadian 22:1 ketika Tuhan mencobai Abraham, kata yang dipakai oleh Musa di dalam Keluaran 20:20 setelah dia menyampaikan 10 perintah kepada orang Israel. Ini juga adalah kata yang digunakan ketika Alkitab menjelaskan tentang orang Israel "mencobai Tuhan". Biarlah ketika Tuhan menguji hidup kita, kita didapati layak, dan kita tidak akan didapati bersalah dalam mencobai Tuhan di dalam perjalanan hidup kita.

Masih ini yang memicu pertanyaan pertama - apa artinya "menguji"? Definisi yang sangat holistik adalah "menetapkan keberadaan, kualitas atau keaslian (sesuatu)". Kita semua tidak asing untuk diuji pada tahap yang berbeda dan dalam aspek kehidupan - dan ujian-ujian ini penting karena ujian terhadap iman kita akan menghasilkan banyak buah (Yakobus 1). Namun tahun ini, kita juga harus melakukan "pengujian" ini.

1 Tesalonika 5:21 menasehati kita untuk menguji segala sesuatu. Lalu apa yang akan kita uji?

Antara lain, kita harus menguji kebenaran rohani dalam kehidupan kita. Ini bukan tentang menjadi skeptis terhadap Firman Tuhan, juga bukan tentang "mencelupkan jari-jari kaki kita" ke dalam setiap pesan baru yang kita dengar. Justru sebaliknya, mengingat konteks 1 Sam 17:39, kita harus menemukan kebenaran atau beberapa kebenaran yang telah kita uji dan terbukti dalam hidup kita yang dapat membentuk fondasi dari perjalanan kita untuk menstabilkan kita melalui masa depan. Begitu kita menemukan kebenaran "baik" ini, kita harus "berpegang teguh" terhadapnya.
Sekarang bagaimana kita menguji kebenaran ini? Tidak diragukan lagi, itu harus dilakukan dalam konteks kehidupan kita sehari-hari. Dengan terus-menerus menempatkan kebenaran seperti iman, kasih, penyembuhan, kemakmuran, doa ke dalam tindakan, itulah cara kita menguji dan menyempurnakan Firman Allah di dalam kehidupan kita. Jadi, ketika saatnya tiba, kita perlu membunuh Goliat kita, kebenaran ini akan menjadi katapel dan lima batu licin - senjata pilihan kita untuk mengatasi oposisi musuh. Inilah pesan yang Tuhan ingatkan sehingga kita akan siap menghadapi masa depan.
Menguji segala sesuatu juga berbicara tentang ketajaman dalam hidup kita. Menariknya, "nasah" juga digunakan dalam Pengkhotbah 2: 1, di mana penyair menulis tentang dirinya sendiri "Saya akan menguji engkau dengan kesenangan ... Dan lihatlah, itu juga adalah kesia-siaan". Ini bukan berarti kita tidak menemukan kebahagiaan dalam hidup. Sebaliknya, harus ada ketajaman dalam hidup kita untuk menemukan aspek kesia-siaan, dan untuk membuka kedok area yang kita cari pemenuhannya yang pada akhirnya akan menghasilkan sedikit keuntungan rohani. Setelah menguji area-area tersebut, kita kemudian "menanggalkannya" seperti yang dilakukan Daud.

Ketika kita memasuki tahun 2018, marilah kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini: Hal-hal apa yang telah kita uji - dan yang belum kita uji? Kebenaran-kebenaran rohani mana yang telah kita pegang erat dan terbukti dalam perjalanan rohani kita? Di tahun depan semoga Tuhan memberi kita ketajaman dan hikmat untuk menguji segala sesuatu, sehingga kita membentuk fondasi yang kokoh untuk musim-musim di masa depan dalam hidup kita.

Nabi Samuel Tham

 

 

 
All Rights Reserved © Living Lilies 2001-2018
Chinese Homepage Homepage Contact Us